Ini Penyebab Ekspor Juni Loyo Jadi US$ 11,78 M

Jakarta – Nilai ekspor Indonesia pada Juni tercatat sebesar US$ 11,78 miliar. Angka ini tercatat turun 8,98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan penurunan impor di Juni sudah menjadi tren selama tiga tahun ke belakang. Terlebih lagi saat ini kondisi ekonomi dunia sedang mengalami pelemahan.

Baca Berita Lainnya :

Keyword dan Negara dengan CPC Tertinggi 2022-2023 Cara Buat Website Dengan Mudah Untuk Pemula

“Seperti saya sampaikan ekonomi global alami perlambatan harga komoditas fluktuatif dan cenderung menurun,” kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (15/7/2019).

Suhariyanto menjelaskan ekspor non migas tercatat mengalami penurunan karena minyak mentah dan gas. Sedangkan ekspor pertanian mengalami penurunan secara bulanan (month to month/mtm) namun secara yoy tercatat positif dengan sumbangan cengkeh, kakao dan tembakau.

“Untuk pertanian ada penurunan pada month to month tapi positif di yoy ekspor cengkeh, kakao, tembakau,” tambahnya.

Selanjutnya industri pengolahan tercatat negatif secara bulanan 19,62% sedangkan secara tahunan tumbuh. Melemahnya ekspor secara bulanan dikarenakan pakaian jadi, minyak sawit, kendaraan bermotor roda empat dan ekspor besi baja.

“Untuk pertambangan tutun 16,11% mtm tajam di batu bara alami penurunan, biji logam dan seng,” tambahnya.

Kemudian untuk ekspor permata seperti perhiasan dan permata naik dengan negara tujuan seperti Singapura, Hong Kong, Swiss, dan China. Begitu juga ekspor pupuk naik dengan negara tujuan India, Australia dan Filipina.

“Yang alami penurunan bahan bakar mineral turun 16,31% negara tujuan China, India, Jepang. Kendaraan dan bagian. lemak dan minyak hewan nabati,” lanjutnya.

(ara/ang)

Sumber : detik.com