Home ARTIKEL Kendala Pembelajaran Daring Selama Masa Pandemi Covid-19

Kendala Pembelajaran Daring Selama Masa Pandemi Covid-19

4174
0

PIRNAS.COM | Covid-19 merupakan penyakit akibat virus corona jenis baru yang muncul pada akhir 2019 pertama kali di Wuhan, Cina yang saat ini menyebabkan pandemi hampir di seluruh dunia. Gejalah utama penyakit Covid-19 yaitu batuk, demam, dan sesak napas (Kemkes, 2020)

Pandemi Covid-19 menciptakan suasana yang tidak kondusif bagi keberlangsungan hidup manusia, semua aktivitas sosial terhenti. Kebijakan belajar dari rumah di tengah Pandemi Covid-19 juga dilakukan sekolah-sekolah di Indonesia. Kebijakan ini didasarkan pada Surat Edaran (SE) Mendikbud No 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Salah satu isi dari SE tersebut adalah memberikan himbauan untuk belajar dari rumah melalui Pembelajaran Daring atau jarak jauh.

Akibatnya banyak kendala-kendala yang terjadi terutama dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini membuat anak-anak yang biasanya beraktivitas di sekolah menjadi terhenti. Pandemi Covid-19 ini menjadikan sistem Pembelajaran Daring/Online yang proses pembelajarannya dilakukan di rumah masing-masing agar tidak menimbulkan perkumpulan (keramaian), hal ini juga menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak terkena virus Covid 19.

BACA JUGA :   MENGUJI "TARING" KPK DI LABURA

Sistem Pembelajaran Daring yang telah di terapkan selama terjadinya Pandemi Covid-19 ini masih memiliki sejumlah kendala. Tak sedikit para siswa yang akhirnya tidak mengikuti kegiatan belajar di karenakan minimnya akses internet. Didalam pelaksanaan proses pembelajaran daring pasti sangat membutuhkan akses jaringan internet. Dalam hal ini ada banyak kendala yang terjadi terutama di daerah pedesaan yang terpencil,  menyebabkan proses pembelajaran daring menjadi terkendala karena akses internet yang tidak stabil dan pulsa (kuota data) internet yang mahal.

Jadi, kestabilan akses internet sangat berperan penting agar proses pembelajaran daring bisa berjalan dengan baik, akan tetapi tidak hanya internet saja melainkan juga di butuhkan adanya pulsa (kuota data) internet yang harus mencukupi.

Persoalan lain juga banyak dikeluhkan yaitu, keterbatasan keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Di karenakan masih ada sebagian siswa yang kurang mengerti akan teknologi itu sendiri terutama dalam pembelajaran daring. Oleh karenanya, dampingan orang tua sangat di perlukan dalam proses pembelajaran daring. Meskipun hal ini tidak mudah tetapi orang tua juga harus dapat berperan selayaknya seorang guru yang mengampu materi pelajaran. Jika orang tua tidak berperan dengan baik di dalam mendampingi anaknya, maka sulit bagi anaknya untuk melaksanakan proses pembelajaran daring dengan baik.

BACA JUGA :   Tidak Cair Dana Publikasi Wartawan Dari Pemkab Labusel, Diduga Adanya Permainan Oknum Pejabat

Dan hal ini juga sangat berpengaruh bagi siswa yang tidak memiliki Gawai (Handphone) karena Gawai ini merupakan alat utama bagi siswa dalam melaksanakan sistem pembelajaran daring. Tidak semua siswa memiliki alat komunikasi ini, akibatnya siswa menjadi sulit dalam melaksanakan proses pembelajaran daring.

Nama : Elia Fikri Astriana

Nim : 0301173479

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam UINSU

(Peserta KKN-DR Kelompok 101)

Alamat : Desa Pasang Lela, Kecamatan NA IX-X, Kabupaten Labuhanbatu Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here