banner 728x250
Daerah  

10 November Merupakan Spirit Perjuangan Yang Harus Terus Dijaga Sampai Kapanpun

PAMEKASAN, pirnas.com & pirnas.org | Perang 10 November 1945 di Surabaya merupakan sejarah perlawanan kaum santri bersama masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pasca proklamasi yang dibacakan oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1945. Pertempuran ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Bagi Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Palengaan, R. Mukhlis Nasir, 10 November merupakan spirit perjuangan yang harus terus dijaga sampai kapanpun.

Click following link

Keyword dan Negara dengan CPC Tertinggi 2022-2023

“Jadi sampai kapanpun, (spirit. Red.) hari pahlawan itu akan ada. Tapi, ya tentu, tidak seperti yang dulu. Tapi, sprit perjuangannya tetap harus ada,” tegasnya, saat ditemui NU Online Pamekasan di kediamannya, Jumat (08/11/2019) sore.

Pada saat itu, tutur kiai muda yang akrab disapa Ra Mukhlis ini, persoalanya ialah bangsa yang menjadi rumah besar keberagaman akan diobrak-abrik oleh kelompok penjajah dari luar.

“Sekarangpun masih ada penjajahan itu, tapi melalui media sosial. Sementara di dalamnya sudah ada kearifan lokal yang mulai menghilang. Maka, harus ada spirit hari pahlawan bagaimana mempertahankan kearifan lokal dan budaya-budaya yang tidak bentrok dengan syariah adat-istiadat, kesopanan, dan kesantunan ala ketimuran. Nilai-nilai ini mulai dijajah empat tahun belakangan ini. Hari pahlawan itu harus ada di situ melakukan perlawanan terhadap penjajahan,” paparnya.

Melihat konteks peperangan 10 November di Surabaya, menurut Ra Mukhlis, perlawanan santri dan masyarakat waktu itu dikarenakan adanya ‘fatwa agung’ yang dikeluarkan oleh Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober sebelum pertempuran tersebut terjadi. Tanggal 22 Oktober ini kemudian oleh pemerintah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

“Artinya, pada waktu itu, bagaimana memaknai ‘titah suci’ atau perintah dari ulama, KH. Hasyim Asy’ari, ketika itu dengan segala pertimbangannya dan keberaniannya yang kemudian fatwa itu diimplementasikan dalam wujud sebuah pergerakan pada 10 November itu,” jelasnya.

Dalam konteks saat ini, lanjut Ra Mukhlis, para pemuda harus bisa mengejawantahkan keinginan ulama-ulama pesantren untuk diimplementasikan menjadi sebuah gerakan bersama menjaga keberlangsungan dan keutuhan bangsa dengan segala keberagamannya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kalau dulu ancamannya adalah penjajah : Jepang, Belanda, Inggris, sekutu, kalau sekarang lebih kompleks dan lebih samar. Pemuda harus tetap semangat menjaga NKRI dan kerukunan beragama dari bermacam serangan, seperti dari serangan paham trans-nasional yang datang dari luar, misalnya paham khilafah. Ini sama dengan sekutu yang ingin menghancurkan NKRI sekarang,” paparnya.

“Jangan kecewakan founding father (tokoh pendiri. Red.) bangsa kita. Jangan buat mereka menangis melihat penerus bangsa dalam menjaga warisan besar. Sadari, bahwa sesungguhnya para ulama dulunya berdarah-darah memperjuangkan dan mempertahankan negeri ini tanpa embel-embel apapun, dan totalitas perjuangan mereka tidak bisa diragukan. Mereka akan menangis jika kita tidak bisa menjaga dua hal besar yaitu bangsa dan agama,” tangkasnya.

(KH/red)