Home ARTIKEL Catatan Lintas Kerja Peminatan FKM UINSU di Batu Bara

Catatan Lintas Kerja Peminatan FKM UINSU di Batu Bara

328
0

PIRNAS.COM | Pandemi yang belum kunjung berakhir membuat kegiatan akademik terpaksa terbatas. Meskipun demikian, aktivitas latihan kerja peminatan atau biasa disebut magang yang dilakukan oleh mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara tetap dilaksanakan. Program LKP (Latihan Kerja Peminatan) menjadi salah satu tools sebagai panduan antara teori dan praktik yang akan memberikan kemampuan mahasiswa untuk memahami fenomena-fenomena dan perkembangan terbaru dalam dunia kerja.

Tujuan dilaksanakannya LKP adalah untuk mengaplikasikan keilmuan kesehatan masyarakat dengan menggunakan kompetensi yang dimiliki untuk mengidentifikasi serta memberikan solusi masalah yang dihadapi di tempat LKP dengan metode yang tepat.

LKP (Latihan Kerja Peminatan) di Fakultas Kesehatan Masyarakat terdapat 6 bagian yakni, Administrasi Kebijakan Kesehatan, Gizi Masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Kesehatan Lingkungan, Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, serta Epidemiologi.

Latihan Kerja Peminatan merupakan salah satu pelatihan kerja yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mempraktikkan ilmu dan kemampuan yang dipelajari selama kuliah sekaligus mendapatkan ilmu-ilmu baru dari tempat instansinya masing-masing. Dengan begitu, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang kemudian menjadi bekal untuk mengarungi dunia kerja yang sebenarnya.

Hal ini dilakukan tentu dengan mengikuti protokol kesehatan. Jika sebelumnya melaksanakan LKP dalam kurun waktu satu bulan. Di masa pandemi saat ini, Latihan Kerja Peminatan hanya dilakukan intensif dua minggu. Tentu menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa angkatan korona untuk mencari instansi yang tepat dan siap untuk menerima mereka. Berbagai penolakan dari instansi juga tidak luput dalam proses LKP. Beragam penolakan pun terjadi,  misalnya saja jumlah mahasiswa yang terlampau banyak. Terlebih lagi dimasa pandemi, mayoritas instansi membatasi jumlah mahasiswa yang ingin melaksanakan LKP. Solusinya dengan memberikan jadwal kepada mahasiswa agar  bergantian masuk dalam bekerja.

Nah, saat ini saya dan ke sembilan rekan saya bernama Abdu, Afif, Alda, Layla,Putri Hasanah, Putri Oktaviani, Silvi , Siti,  dan Tya sedang berada di instansi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batu Bara. Alasan kami untuk mengambil lokasi tersebut sudah pasti karena berhubungan dengan jurusan di ilmu kesehatan masyarakat, khususnya pada bidang kesehatan lingkungan.

BACA JUGA :   Kemandirian Pers Indikator Kemajuan Bangsa Dan Negara

Dalam mengawali hari pertama Latihan Kerja Peminatan, saya dan teman-teman sudah lebih dahulu menerka-nerka bahwsanya; akan sangat membosankan jika hanya duduk di dalam ruangan selama melaksanakan Latihan Kerja Peminatan. Namun, yang terjadi sungguh diluar prasangka. Ibu Kartina, selaku kepala bidang sekaligus yang bertanggung jawab selama kami melaksanakan LKP justru menetapkan agar kami berada di lapangan, yakni untuk memantau dan melihat serta ikut serta dalam pengelolaan sampah di Batu Bara. 12 kecamatan kami lalui dengan suka cita, mulai dari  pengelolaan di TPS (tempat penampungan sementara) hingga ke TPA (tempat pembuangan akhir).

Dari TPA (tempat pembuangan akhir) begitu jelas tumpukan sampah yang dikelilingi burung bangau untuk mencari makan. Tidak hanya itu, lalat pun menjadi penghuni di TPA. Disaat musim kemarau lalat tidak terlihat, namun disaat musim hujan lalat akan ikut mengerumuni tumpukan sampah. Begitu besar dampak sampah bagi okosistem. Bukan hanya lingkungan yang tercemar, akan tetapi penyakit pun dapat menjangkit.

Oleh karena itu, perlu kiranya untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari diri sendiri. Caranya, mulailah untuk mengurangi penggunaan plastik dan beralih menggunakan bahan yang ramah lingkungan.

Pengelolaan sampah saat ini berdasarkan UU No 18 Tahun 2008 dan PP No 81 Tahun 2012 di lakukan dengan dua fokus utama yakni pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah seperti yang di jelaskan di dalam UU maupun PP yang telah disebutkan dilakukan mulai dari sumber sampah sampai pada pengelolaan akhir. Pada dasarnya pengolahan sampah difokuskan pada TPS (Tempat pengolahan sementara) dan TPA (Tempat Pengelolaan Akhir) yang sudah ditentukan oleh pemerintah setempat, hal ini sebenarnya belum terlalu efektif dalam hal penanganan sampah. Persampahan merupakan isu penting khususnya di daerah perkotaan, dimana jumlah penduduk di daerah perkotaan yang cukup banyak dan relatif padat. Kehidupan manusia dengan semua aktivitasnya tidak terlepas dengan namanya sampah. Karena sampah merupakan hasil efek samping dari adanya aktivitas manusia baik berupa aktivitas rumahan maupun aktivitas industri. Diperkirakan hanya sekitar 60 % sampah di kota-kota besar di Indonesia yang dapat terangkut ke TPA (Tempat Pengelolaan Akhir), yang operasi utamanya adalah pengurugan (landfilling). Banyaknya sampah yang tidak terangkut kemungkinan besar tidak terdata secara sistematis, karena biasanya dihitung berdasarkan muatan truk menuju TPA. Sampai saat ini paradigma pengelolaan sampah yang digunakan adalah kumpul, angkut dan buang.

BACA JUGA :   PILKADA LABURA DAN HARAPAN PEMIMPIN MASA DEPAN

Pada Kabupaten Batu Bara, Kecamatan Tanjung Tiram menjadi sorotan dalam menghasilkan sampah. Sebab, sampah yang dihasilkan per harinya dapat mencapai 16 hingga 18 m3. Tidak hanya menghasilkan sampah terbanyak, akan tetapi sampah tersebut juga memiliki bau yang tidak sedap. Hal ini dikarenakan berbagai faktor diantaranya padatnya penduduk, dan kurangnya rasa peduli terhadap lingkungan.

Oleh karena itu, dengan melaksankan Latihan Kerja Peminatan yang dilakukan, kami menyadari bahwa sampah adalah hal krusial yang harus ditangani segera. Tidak hanya dari pemerintah yang membuat kebijakan, akan tetapi semua kalangan ikut serta dalam memperbaiki sistemnya.

Penulis             : Anggi Kurnia Adha Harahap

Jurusan            : Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas           : FKM

Institusi           : UIN SU MEDAN

Semester         : VII

No Hp              : 082277164684

Instagram        :anggi_april4

 

Anggi Kurnia Adha Harahap adalah seorang penulis kelahiran tanah batak, Sumatera Utara yang dimana novel pertamanya berjudul ”Lelaki Berkacamata”, lahir pada dunia literasi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here