banner 728x250

Sekapur Sirih Dari Media Online Pirnas.com Kampar Untuk Kabupaten Kampar Bersempena Hari Jadi Yang ke-71

  • Bagikan

PIRNAS.COM | KAMPAR – Sekapur sirih dari media online pirnas.com Kabupaten Kampar untuk kabupaten Kampar bersempena hari jadi kab. Kampar yang ke-71.

Kabupaten Kampar merupakan salah satu kabupaten terbesar di Indonesia, sebelum kabupaten Rokan hulu dan kabupaten Pelalawan dimekarkan menjadi daerah tingkat II diwilayah propinsi Riau. Beragam etnis budaya yang menjamur di kabupaten Kampar berasal dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke ufuk timur Indonesia.

Diusianya yang bukan seumur jagung lagi, berbagai langkah telah dilakukan, berbagai upaya telah dicoba, namun masih banyak PR pemerintah kab. Kampar yang harus dilakukan, karena yang menilai bukan saja pengawas yang telah ditunjuk, tetapi masyarakat Kampar lah yang menilai baik buruknya kinerja pemerintah sampai saat ini.

Diberbagai sektor bidang telah ditonjolkan bahkan telah dipromosikan sampai ke pemerintah pusat juga bekerjasama dengan negara tetangga seperti Malaysia. Ini bukti keseriusan pemerintah untuk memajukan daerah.

Sektor pariwisata yang saat dapat mendongkrak perekonomian masyarakat ikut digalakkan, sampai kepelosok desa, seperti Ulu Kasok, Tepian Mahligai, Candi Muara Takus di kec. XIII Koto Kampar.

Kabupaten Kampar telah dipimpin oleh bupati dari masa ke masa sejak tahun 1950 awal disahkannya Kampar menjadi daerah tingkat II, berikut nama-nama bupati Kab. Kampar yaitu:

1. Datuk Wan Abdul Rahman,

2. Ali Lubis,

3. Abdul Muis Datuk Rangkayo,

4. Datuk Wan Abdul Rahman,

5. Datuk Harunsyah,

6. T. Muhammad,

7. R. Soebrantas Siswanto,

8. R. Soebrantas,

9. R. Soebrantas Siswanto,

10. A. Makahamid, SH,

11. Sartono Hadisumarto, 1

2. Syarifuddin,

13. H. Saleh Djasit, SH,

14. H. M Azaly Djohan, SH,

15. Drs H Beng Sabli,

16. Drs H syawir Hamid,

17. Ir. H Jefri Noer,

18. H Rusli Zainal,

19. Ir. H Jefri Noer,

20. Drs H Burhanuddin Husin, MM,

21. Ir. H Jefri Noer,

22. H. Aziz Zainal, SH MM,

23. H. Catur Sugeng Susanto, SH.

Sumber : Sekretariat DPRD kab. Kampar.

Di usia yang sudah matang harusnya Pemda Kampar melakukan terobosan-terobosan yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, selalu duduk bersama membahas kab. Kampar kedepannya.

Adat bersendi sarak, sarak bersendi kitabullah, tali bapilin tigo, tungku tigo sajoghangan, melekat sampai sekarang yang dipegang oleh setiap bupati apabila telah memangku jabatan Bupati Kampar. Ini erat kaitannya dengan adat istiadat yang ada di negeri bertuah nagoghi serambi mekkahnya Riau. Setiap mengambil keputusan harus diikutkan tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemerintah yang disebut tali bapilin tigo, tungku tigo sajoghangan.

Tema hari jadi kab. Kampar yang ke-71 diambil dari bahasa Bangkinang asli, Basamo mambolo nagoghi artinya bersama membangun negeri. Tema tersebut merupakan kalimat yang sangat keramat, betapa tidak, jarang sekali bahkan tidak pernah tema hari jadi kab. Kampar diberi tema dalam bahasa Bangkinang asli, ini merupakan tema yang luar biasa yang mestinya harus diviralkan.

Salah seorang tokoh masyarakat berkomentar, Kampar merupakan nagoghi bertuah, ini dibuktikan dengan adanya Candi Muara Takus, dialiri oleh sungai Kampar yang bermuara dari tujuh muara sungai, masyarakatnya memiliki adat istiadat yang sangat kental dan jangan sampai hilang ditelan zaman modern.

Pemerintah kab. Kampar dalam usianya ke-71 harus membuktikan dengan terobosan yang nyata, harus sesuai dengan tema Basamo Mambolo Nagoghi. Kab. Kampar harus dibangun dengan keikhlasan, jangan mengambil keuntungan dari setiap jabatan yang dijabat, sebab anggaran APBD kab. Kampar mencapai angka 3 triliyun.

“Sangat luar biasa bahkan fantastis, maka dari itu, Bapak Bupati Kampar, H Catur Sugeng Susanto, SH harus amanah dalam menjalankan tugas, yang salah harus ditindak tegas, jangan biarkan korupsi bergentayangan ditanah bertuah kami ini”, harap kami.

“Sebagai penutup, dari media online pirnas.com kab. Kampar mengucapkan SELAMAT HARI JADI KABUPATEN KAMPAR ke-71, Basamo Mambolo Nagoghi, yang lomah dibantu jangan ditindas, bersama kami ikut membangun negeri yang tercinta ini, jangan kotori negeri kami ini dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme, selalu berpegang teguh kepada mottonya orang Melayu Kampar, adat bersendi Sarak, Sarak bersendi kitabullah, takkan Melayu hilang dibumi, jayalah negeriku”, ujar salah satu tokoh Jawa melayu menutup sekapur sirih dari media online ini.

(Y/K)

  • Bagikan