banner 728x250

SELESAI PROYEK, MAKAN TAK DIBAYAR PROYEK BPBD LABUSEL PAK BUPATI… TOLONG DIBAYARKAN…!!! AKU ORANG SUSAH

LABUSEL, PIRNAS | Etika dan santun serta orang yang pernah menolong kita dengan setulus hati tentu harus kita hargai dan kita hormati terlebih kepada orang yang lebih tua dan hidup miskin, sesuai dengan semboyan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan, “Santun Berkata Bijak Berkarya”.

Santun artinya kepada siapa saja terlebih orang yang kita hormati, Bijak artinya harus bijak dalam mengambil keputusan, serta Karya artinya marilah kita berkarya, karya apa saja yang dapat kita kerjakan akan membuahkan hasil yang maksimal.

Click following link

Keyword dan Negara dengan CPC Tertinggi 2022-2023

Sehingga diharapkan warga Labusel memaknai arti itu sehingga perbutan kita tidak ada yang memalukan dalam melaksanakan tugas apa pun kita sehari-hari.

Namun pada kenyataanya ada cerita yang sangat menyedihkan dan ibah cerita Pak Warso dan Istri, kepada Awak Media ini dikediamanya (2/9/2019), sepasang suami istri (Pasutri) yang hidupnya pas-pasan untuk makan sehari-hari.

Bapak Warso dan Ibu Sampen, 70 tahun warga Dusun Suhut, Desa Rintis, Kecamatan Silang Kitang, Kab. Labusel, di bulan Agustus 2018, ada proyek Rehabilitasi dan Rekontruksi Box dan saluran Dranase, dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

Sebagai pihak rekanan CV MANDIRI JAYA persis di depan kediaman Pak Warso, warga Dusun Suhut, Desa Rintis, saat itu proyek mulai dikerjakan di bulan agustus tahun lalu maka CV MANDIRI JAYA, menggunakn 8 tenaga kerja tukang dan kernet, pada saat itu tentu ke delapan anggota tersebut butuh tempat tinggal dan makan maka dengan kesepakatan antara mandor bagunan dan Pak Warso serta istri mau mengurus makan ke delapan pekerja tersebut dengan perjanjian sekali makan Rp. 35.000,- perhari, sehari tiga kali makan jadi jumlahnya Rp. 105.000,- perhari kali  48 hari sampai selesai proyek itu, Namun Pak Warso, tidak menyediakan tidur dan mandi, disarankan agar para pekerja tidur di Musholah namun para pekerja tidak mau malah tidur dan mandi di rumah Pak Warso, gratis tidak dibayar sebenarnya Pak Warso dan Istri tidak bersedia tidur disitu tapi mereka ngotot tidur di rumah Pak Warso, sehingga kedua orang tua yang sudah renta ini pasrah tidak bisa berbuat apa-apa, ya sudah lah ke delapan pekerja ini pun tidur mandi buat kopi, kalau lapar masak Indomie berkotak-kotak habis tanpa ada hitungan selama 48 hari hutang pun menumpuk di kedai dengan harapan kalau makan di bayar untuk bayar hutang di kedai.

Namun hutang menumpuk di kedai makan hanya di bayar tidak sesuai harapan, terhitung para pekerja ketimpa Rp. 3.435.000,- selama 48 hari sampai saat ini tidak dibayar para pekerja dan mandor pergi begitu saja, dan pihak rekanan pun tidak ada yang nongol sampai saat ini.

Kesana kemari sudah bingung mau ngadu pada siapa yang ahirnya ngadu kepada seorang wartawan, Alhamdulillah di tanggapi “saya hanya rakyat kecil pak,, hanya meminta kemurahan hati Bapak Bupati, untuk membantu masalah ini tolong aku rakyatmu yang miskin ini pak bupati”, tak sadar sambil air matanya berkaca-kaca saat wawancara dengan awak media ini di pipinya yang sudah tampak kriput itu dan wajahnya yang tampak polos.

Di tempat terpisah Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Hairil, di kantornya saat di komfirmasi media ini menyampaikan, intinya Hairil, sudah tau masalah ini, namun sepertinya Hairil membiarkan masalah ini dan tidak ada penyelesaianya dan di biarkan selama setahun lamanya sejak berita ini di turunkan apa bila hal ini tidak di respon wartawan media ini akan membawa Pak Warso dan Ibu Sampen, untuk menghadap Bupati Labusel, H. Wildan Aswan Tanjung, atas pembiaran masalah ini di Istansi bersangkutan. (MS)